Social Icons

Senin, 01 April 2013

Keindahan Siput Telanjang dari "Dunia Lain" Terungkap

Franco Banti Nudibranch
Salah satu pesona yang terdapat di dasar laut adalah Nudibranch atau siput telanjang. Golongan mollusca yang tak bercangkang ini tampak seperti makhluk dari dunia lain, berbeda dengan keseharian manusia.
Foto yang diambil dari berbagai perairan termasuk Indonesia mengungkap bahwa makhluk ini ternyata memiliki ragam warna dan bentuk yang memukau.
Nudibranchs shed their shells during the larval stage to reveal these multi-coloured exteriors
Nudibranchia kehilangan cangkang sejak fase larva dan berkamuflase sebagai strategi perlindungan diri
It is believed the soft-bodied marine molluscs have evolved their unique anatomy to warn off predators
Warna-warni Nudibranchia berfungsi memperingatkan predator agar tak memakannya
 

Nudibranch berasal dari bahasa Latin ‘nudus’ yang artinya telanjang, dan Yunani ‘brankhia’ berarti insang. Hewan ini memang memiliki insang yang pada kebanyakan jenis terpapar di permukaan punggung mereka.
Para peneliti percaya, warna-warni Nudibranch adalah bentuk evolusi, sebuah bentuk kamuflase sehingga bisa menghindari menghindari pemangsa. Warna mungkin juga merupakan contoh aposematisme, berfungsi memperingatkan pemangsa bahwa mereka mungkin beracun untuk disantap.

Bukan cuma Nudibrach dewasa yang berwarna-warni, tetapi juga telurnya. Ada telur berwarna merah, pink, oranye dan sebagainya. 

These images were taken in waters surrounding Indonesia, the Philippines and Papua New Guinea, as well as the Mediterranean Sea and Red Sea
Nudibracnchia dijumpai di beragam perairan di dunia, termasuk Indonesia

 Sea slugs Sea slugs
Nudibranch berarti insang telanjang.

Beberapa jenis nudibranch diketahui memiliki racun yang kuat, mampu melumpuhkan pemangsa mereka. Jenis lainnya bisa mengeluarkan zat asam dari kulit mereka saat mereka merasa terganggu. Sebagian siput laut mendapatkan racun dari sponge yang dimakan tetapi sebagian memproduksi sendiri.

Sebaran nudibranch  di lautan dunia sangat luas. Mereka bisa ditemukan di lautan tropis sampai Antartika.

Nudibranch juga dapat ditemukan di berbagai tipe substrat seperti batuan, rumput laut, sponge, koral dan berbagai jenis substrat lainnya. Selain itu, mereka juga mampu hidup pada berbagai tingkat salinitas. Variasi ukuran dan jenis terbanyak ada di perairan yang hangat dan dangkal.

Karena luasnya rentang toleransi dan sebaran mereka, diperkirakan jenis siput laut telanjang yang telah teridentifikasi di seluruh dunia mencapai lebih dari 3.000 jenis.


One theory is that the colourful exterior is a form of aposematism - a warning to predators that they could be poisonous
Beberapa jenis Nudibranch mampu menghasilkan racun
 
There are thought to be around 3,000 different species of nudibranchs in our oceans
Kurang lebih ada 3000 jenis Nudibranch di dunia.

Some species get their toxicity from the sponge they eat but others can produce it themselves

Beberapa spesies Nudibranch hanya mampu "mencuri" racun dari sponge

 Another defence tactic is for nudibranchs to release acid from their skin
Beberapa jenis Nudibranch mempertahankan diri denganmengeluarkan zat asam

They can be found crawling over rocks, seaweeds, sponges, corals and many other substrates
Nudibrach bisa hidup di beragam substrat, mulai batu hingga rumput laut

 Even sea slug eggs can be red, pink, orange or any other colour depending on the species
Bahkan, ada siput laut telanjang yang berwarna pink
 
Sumber :
»»  READMORE...

WWF Temukan Rafflesia Merah Putih di Riau




WWF Indonesia Raflesia Merah Putih (Rafflesia hasseltii)

PEKANBARU, Organisasi konservasi WWF Indonesia bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam menemukan bunga Rafflesia dalam keadaan mekar sempurna di Kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, Kabupaten Kampar, Riau.

"Penemuan ini merupakan pencatatan baru (new record) di Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling," kata Humas WWF, Syamsidar, Selasa (26/3/2013).

Tim WWF dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) menemukan lima bunga Rafflesia pada satu titik kawasan. Salah satu bunga dalam kondisi mekar sempurna berukuran diameter sekitar 50 sentimeter. Bunga ini sangat jarang ditemukan dalam kondisi mekar sempurna.

Bunga Rafflesia ini diketahui sebagai jenis Rafflesia Merah Putih (Rafflesia hasseltii) atau dikenal dengan nama lokal Cendawan Muka Rimau.

Pada saat mekar, diameter bunga bisa mencapai 30-50 cm, cuping (perigone) 11-13 cm, dan lebar 15-17 cm.

Warna bunga ini merah kecoklatan dengan lempeng warna putih yang relatif besar dan tidak beraturan. Karena warna inilah, bunga ini mendapatkan julukan "Rafflesia Merah Putih". Rafflesia ini merupakan tumbuhan parasit dengan inang Tetrastigma leucostaphyllum.

Wilayah penyebarannya meliputi Selat Peninsula Malaysia, Sarawak, dan Sumatera. Di Sumatera, wilayah penyebarannya sangat terbatas, meliputi Taman Nasional Bukit Tigapuluh, Sanglap, Riau, Jambi, dan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Syamsidar mengatakan, tim juga berhasil mengabadikan Rafflesia tersebut lewat lensa kamera yang ditemukan pada tanggal 20 Februari 2013.

"Penemuan Rafflesia ini merupakan yang pertama kali untuk wilayah Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling, Riau," kata Syamsidar.
    
Para ahli harimau mengklasifikasi hutan SM Bukit Rimbang Baling sebagai kawasan prioritas jangka panjang konservasi harimau sumatera.

Pada tahun 2012, demikian rilis WWF, di lokasi yang sama, perangkap kamera yang dipasang oleh tim monitoring WWF Indonesia juga berhasil merekam lima dari tujuh spesies kucing hutan yang ada di Indonesia.

Namun, sayangnya, kata Syamsidar, kawasan tersebut terancam oleh aktivitas perambahan dan pembalakan liar.

Penemuan ini, menurut dia, membuktikan bahwa kondisi keanekaragaman hayati di SM Bukit Rimbang Baling masih dalam kondisi baik, tetapi di beberapa lokasi masih diperlukan improvisasi manajemen kawasan yang lebih baik.

WWF juga menjelaskan bahwa Rafflesia Merah Putih merupakan salah satu spesies bunga yang dilindungi secara hukum berdasarkan Peraturan Presiden No 7 Tahun 1999 dan berstatus genting dalam "Daftar Merah".
Sumber :
ANT
»»  READMORE...

Nelayan AS Temukan Hiu Berkepala Dua




Journal of Fish Biology Hiu banteng berkepala dua

FLORIDA, Seorang nelayan menangkap hiu di wilayah lepas pantai Florida. Ia terkejut saat menjumpai bahwa salah satu embrio hiu itu punya dua kepala.

Nelayan yang menemukan, tak diungkap namanya, menyimpan spesimen embrio tersebut dan kemudian menyerahkannya kepada ilmuwan. Michael Wagner, salah satu ilmuwan yang mempelajari spesimen itu, memublikasikan hasil kajiannya di Journal of Fish Biology.

Wagner yang seorang peneliti di Michigan State University mengungkapkan bahwa dalam biologi, fenomena pada embrio itu disebut axial bifurcation.

Menurutnya, embrio berkepala dua bisa terbentuk karena adanya mutasi genetik. Mutasi tersebut sangat jarang terjadi. Tak cuma pada hiu, mutasi juga bisa terjadi pada manusia, mengakibatkan adanya bayi kembar dempet.

"Di tengah proses pembentukan bayi kembar, embrio berhenti mengalami pembelahan," ungkap Wagner seperti dikutip Discovery, (25/3/2013).

Menurut Wagner, kalaupun hiu itu lahir, sulit baginya untuk hidup di lautan bebas. "Jika Anda predator yang harus bergerak cepat untuk mengejar ikan yang juga bergerak cepat, maka dia hampir tak bisa hidup dengan mutasi ini," katanya.

Alasan lain, hiu akan memiliki tubuh yang kecil. Perlu energi ekstra sehingga hiu bisa memiliki tubuh besar.

Kelainan pada hiu ini telah beberapa kali ditemukan. Deskripsi kelainan pada hiu ini di masa depan akan membantu memahami lebih dalam sebab kemunculannya. Beberapa museum dunia menyimpan hiu kepala dua yang diambil dari tahun 1880.
Sumber :
DISCOVERY
»»  READMORE...

Jubah Harry Potter Jadi Kenyataan



TEXAS, Jika Anda penyuka novel dan film Harry Potter, mungkin Anda sudah tidak asing dengan jubah yang bisa membuat Harry Potter "menghilang". Kini, jubah tersebut tidak cuma menjadi khayalan. Tim peneliti University of Texas di Austin menciptakan jubah tersebut.

Jubah ciptaan Andrea Lu bisa membuat benda menjadi tak tampak meski baru bisa diaplikasikan pada cahaya gelombang mikro.

Jubah tembus pandang itu dibuat dari material baru yang disebut metascreen. Material dibuat dari pita tembaga setebal 66 mikrometer yang dipasangkan pada selaput polikarbonat fleksibel setebal 100 mikrometer. Keduanya dikombinasikan dalam pola diagonal seperti jaring ikan.

Sebelumnya, jubah macam ini diciptakan dengan teknik "bulk metamaterial", membengkokkan cahaya di sekitar obyek sehingga tak dipantulkan.

Jubah yang diciptakan Alu dan koleganya menggunakan teknik yang berbeda, yang disebut mantle cloaking. Teknik ini akan menghapus gelombang cahaya yang memantul pada obyek yang dilindungi sehingga gelombang cahaya tersebut tidak ada yang bisa mencapai mata observer.

"Saat medan cahaya yang terpencar dai jubah dan obyek terganggu, mereka akan saling menghapus satu sama lain dan efeknya adalah transparansi dan tembus pandang dari semua sudut pengamatan," kata Alu dalam pernyataannya yang dikutip Livescience, Senin (25/3/2013).

Untuk membuktikan kemampuan kerja jubah itu, Alu melakukan uji coba di laboratorium dengan beberapa obyek.

Dalam uji coba itu, Alu dan tim berhasil "menghilangkan" batang silidris sepanjang 18 cm dari pandangan pengamat dalam cahaya gelombang mikro. Peneliti mengatakan bahwa teknologi ini juga dapat menyembunyikan benda yang berbentuk tidak simetris dan aneh.

Menurut peneliti, teknologi ini bisa diaplikasikan pada cahaya tampak. Tetapi, mungkin pada awalnya hanya bisa "menghilangkan" benda yang berukuran sangat kecil.

"Faktanya, metascreen lebih mudah untuk diwujudkan pada frekuensi tampak dibandingkan bulk metamaterial, dan ini membuat kita lebih dekat untuk bisa mewujudkan manfaat praktisnya," kata Alu.

Ukuran benda yang dapat disamarkan sebanding dengan panjang gelombang cahaya saat pelaksanaannya. Oleh karenanya, jika diaplikasikan pada frekuensi optis, jubah ini mungkin hanya efisien untuk menghentikan pancaran cahaya pada benda berukuran mikrometer.

“Keuntungan dari mantle cloaking dibandingkan teknik yang telah dikembangkan sebelumnya adalah penyelarasan, kemudahan pembuatannya, dan pengembangan bandwidth," tambah Alu.

Alu mengungkapkan, manfaat penemuan ini bukan semata untuk menyenangkan penggemar Harry Potter dan orang yang bercita-cita menjadi mata-mata. Teknologi ini bisa dimanfaatkan untuk pengindraan non-invasif dan peralatan biomedis.

Hasil temuan Alu dan timnya telah dipublikasikan di New Journal of Physics untuk edisi tanggal 26 Maret 2013.
Sumber :
»»  READMORE...

Ini Dia Wajah Komet Paling Terang Tahun Ini




NASA Wajah komet ISON (tengah atas) yang diambil satelit Swift pada sabtu (30/3/2013). ISON sedang berada di dekat bintang terang Castor di konstelasi Gemini.





CAPE CANAVERAL, Satelit milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Swift, berhasil mengabadikan wajah komet ISON. Komet ini dipastikan menjadi yang paling terang tahun ini dan berpotensi menjadi yang paling terang selama 50 tahun terakhir.

Swift sebenarnya dipakai untuk mengamati fenomena pada bintang yang berjarak jauh dari Bumi. Satelit ini telah mengamati ISON dalam dua bulan terakhir. Foto wajah komet ISON yang diambil satelit ini dirilis pada Sabtu (30/3/2013).

Dalam foto tersebut, ISON tampak sebagai bola putih terang dengan ekor gas pendek. Saat dipotret oleh Swift, ISON sedang berada pada jarak 670 juta kilometer dari Bumi dan 740 juta kilometer dari Matahari.

Komet tersusun atas inti es, gas beku, dan debu yang bercampur membentuk struktur bola. Es pada komet akan tetap beku hingga komet mencapai wilayah berjarak tiga kali jarak Bumi-Matahari di Tata Surya. Saat itu, materi beku akan menyublim, membentuk ekor gas yang membuat komet tampak terang.

"Menggunakan citra yang didapat selama dua bulan dari Ultraviolet/Optical Telescope (UVOT) pada satelit Swift, tim berhasil memperkirakan produksi air dan debu pada komet untuk menebak ukuran inti esnya," papar NASA dalam pernyataannya.

Observasi Swift menunjukkan, saat ini ISON menghasilkan 51.000 kg debu dan 60 kg air setiap menitnya. Jumlah ini sebenarnya kurang sesuai untuk komet sekelas ISON yang diprediksikan akan menjadi "komet abad ini".

"Ketidakcocokan yang kami deteksi antara jumlah air dan debu yang dihasilkan ISON menunjukkan bahwa sublimasi air belum banyak terjadi karena komet masih terlalu jauh dari Matahari," kata Dennis Bodewits, pemimpin investigasi ISON dari University of Maryland di College Park.

"Materi yang mudah menguap lain, seperti es karbon dioksida dan karbon monoksida, menguap pada jarak yang lebih jauh dan kini mendayai aktivitas komet ISON," tambah Bodewits seperti dikutip Space, Sabtu.

Komet ISON ditemukan pada bulan September 2012 oleh astronom asal Rusia, Vitali Nevski dan Artyom Novichonok. Mereka menemukannya dengan instrumen International Scientific Optical Network (ISON) di dekat Kislovodsk. Nama komet diambil dari nama instrumen yang dipakai untuk menemukannya.

Komet ISON diperkirakan akan tampak paling terang pada 28 November 2013. Komet ini akan lebih terang dari Purnama dan bahkan bisa dilihat pada siang hari. Walau ada prediksi bahwa ISON takkan seterang yang diduga, kehadirannya tetap layak ditunggu.
Sumber :
»»  READMORE...

Kaki Seribu Unik Bercahaya bak Kunang-kunang




Robert Kimsey Kaki Seribu Bercahaya



CALIFORNIA, Berawal dari rencana membasmi tikus di Pulau Alcatraz, Teluk San Fransisco menggunakan teknik pelacakan kotoran yang dikeluarkan oleh tikus setelah makan makanan mengandung zat fluoresen, ilmuwan justru membuat penemuan mengejutkan.

Tim peneliti dari University of California Davis yang dipimpin oleh ahli serangga, Robert Kimsey, justru dikejutkan oleh penemuan obyek yang berpendar dan hidup. Setelah diamati, Kimsey dan mahasiswanya, Alexander Nguyen, mengetahui bahwa obyek itu adalah kaki seribu (milipede).

Kimsey kemudian berusaha mengidentifikasi jenis kaki seribu yang ia temukan. Namun ia kesulitan karena merasa bahwa kaki seribu yang tersebut berbeda dengan jenis kaki seribu dengan fluoresens lain yang hidup di sekitar wilayah teluk.

Akhirnya, berkat bantuan Rowland Shelley, kurator hewan invertebrata terestrial di North Carolina State Museum of Natural Science di Raleigh, teridentifikasi kalau kaki seribu yang ditemukan Kimsey adalah spesies Xyxtocheir dissecta dissecta.

Penemuan kaki seribu yang bisa bercahaya saat langit malam dan gelap ini menimbulkan banyak pertanyaan di benak Kimsey. Hewan yang ditemukan olehnya tidak menghasilkan cahayanya sendiri, tetapi baru akan bercahaya bila terpapar  ultraviolet.

Menurutnya, tidak wajar bila hewan yang hidup nokturnal (aktif ketika malam hari) memiliki tubuh yang menyala ketika terkena cahaya ultraviolet. Secara normal, [ada malam hari, hewan seharusnya tidak terpapar ultraviolet.

"Mengapa hewan ini berpendar? itu adalah sebuah pertanyaan seharga US$64.000. Hewan ini nokturnal, karenanya berpendar saat terkena ultraviolet adalah satu hal yang tidak masuk akal," kata Kimsey seperti dikutip Our Amazing Planet, Rabu (27/3/2013).

Berbagai penemuan terbaru menunjukkan banyak spesies kaki seribu yang mampu berpendar. Tetapi, hingga kini belum ada satu pun yang mengetahui mengapa hewan itu berpendar.

Kaki seribu bercahaya ditemukan di beberapa wilayah. Di Golden State, ada tujuh spesies yang ditemukan. Sebuah penelitian pada tahun 1960an pernah menemukan jenis kaki seribu bercahaya di Camp Nelson, sebuah desa yang terletak di Tulare County, California.

Shelley berpendapat, beberapa jenis kaki seribu mengeluarkan cahaya sebagai peringatan pada para pemangsa bahwa mereka memiliki racun. Mekanisme ini, bagi hewan malam, persis seperti mekanisme pewarnaan aposematik, pewarnaan mencolok yang bertujuan memberi peringatan, yang dimiliki beberapa hewan seperti jenis katak beracun.

Menurutnya Shelley, pesan yang disampaikan melalui dua mekanisme tersebut sama, yaitu "jangan makan saya". Shelley menjelaskan, tubuh kaki seribu mengandung racun sianida. Namun, kebanyakan spesies untuk dipegang. "Kecuali Anda berencana untuk "meletakan satu di dalam mulut anda, dan kemudian mengunyahnya," katanya.
»»  READMORE...

Ratusan Spesies Kumbang Dinamai dari Buku Telepon

Alexander Riedel 60 kumbang baru yang ditemukan Alexander Riedel di Pegunungan Cyclops, Papua, nampak memiliki kesamaan. Namun, hasil studi terhadap masing-masing kumbang, menunjukkan adanya perbedaan pola, warna, dan bentuk.

 
Ratusan spesies baru kumbang terbang yang termasuk superfamily Curculionoide ditemukan di kawasan hutan hujan tropis bagian dari Pegunungan Cyclops, Papua. Fisologi yang hampir serupa namun berbeda, menjadi masalah tersendiri bagi para ilmuwan.

Pemberian nama 101 jenis kumbang baru yang ditemukan, seperti Trigonopterus viridescens, mempertimbangkan beberapa hal seperti ciri fisik dan lokasi temuan. Namun, para ilmuwan menyadari jika proses pemberian nama tersebut dilakukan dengan cara manual, akan menghabiskan waktu lama.

Atas dasar alasan tersebut ahli entomologi Jerman, Alexander Riedel dari German Natural History Museum Karlsruhe, dan Michael Balke dari Zoological State Collection di Munich, beralih menggunakan buku telepon untuk memberikan label bagi semua spesies baru kumbang yang ditemukan. Hasil temuannya ini telah dimasukkan ke jurnal Zookeys pada 27 Maret lalu.

Selain itu nereka juga mengambil foto spesies yang akan digunakan sebagai database online, yang mereka sebut dengan "Spesies ID" --layaknya wikipedia yang digunakan untuk mengatalogisasi keanekaragaman hayati.

"Lebih dari 100 spesies menjadi sumber bagi ilmu pengetahuan dan perhatian publik dengan menggunakan cara baru ini, lima kali lebih cepat dibandingkan menggunakan teknik tradisional," kata Riedel.

Untuk metode labelisasi cepat, Riedel dan rekannya memilih menggunakan nama keluarga lokal atau marga dari daftar buku telepon di Papua.

Penamaan spesies dengan menggunakan nama orang bukanlah hal yang baru. Sebut saja Scaptia (Plinthina) beyonceae yang terilhami dari diva pop, Beyoncé. Kemudian dua spesies baru lumut dan spesies laba-laba yang menggunakan nama Presiden Barack Obama dan crustacea Karibia yang menggunakan nama Bob Marley.

Terbaru, adalah spesies tawon parasit mematikan yang dinamai Beatrix Kiddo --tokoh pahlawan yang dperankan Uma Thurman dalam film Kill Bill.

"Nama spesies ini akan terus digunakan dalam ratusan tahun ke depan, saya ragu jika menggunakan nama selebriti apakah masih memiliki makna yang sama. Saya rasa spesies yang ditemukan di area tertentu harus memiliki keterkaitan dengan masyarakat setempat. Dan buku telepon merupakan acuan yang baik untuk menemukan nama-nama yang potensial," kata Riedel. (Umi Rasmi/National Geographic Indonesia)
Sumber :
National Geographic Indonesia
»»  READMORE...