Social Icons

Rabu, 06 Februari 2013

Insulin Bisa Sebabkan Komplikasi Diabetes

Insulin dan penyakit diabetes adalah dua hal yang sulit dipisahkan. Meski sudah dipakai dalam terapi pengobatan diabetes selama berpuluh tahun, sebuah studi terbaru mengindikasikan obat ini bisa menyebabkan komplikasi serius.

Komplikasi yang bisa timbul dari penggunaan insulin antara lain serangan jantung, stroke, penyakit ginjal, dan komplikasi mata. Namun, komplikasi itu terutama ditemukan pada pasien lanjut usia.

Insulin merupakan obat utama untuk penderita diabetes tipe satu karena pankreas mereka tidak bisa menghasilkan hormon ini. Sementara pada diabetes melitus insulin diberikan untuk meningkatkan produksi insulin atau meningkatkan kepekaan terhadap insulin.

Tim peneliti dari Cardiff University School of Medicine, Inggris, melakukan penelitian menggunakan data UK Clinical practice Research Datalink, database dari populasi 10 persen pasien diabetes di Inggris.

Efek samping insulin itu terutama ditemukan pada kelompok yang memakai insulin antara tahun 1999 dan 2011.

Hasil penelitian ini mengejutkan karena jumlah orang yang terdiagnosis diabetes melitus dan harus mendapatkan insulin terus meningkat.

"Terapi insulin adalah terapi untuk menurunkan gula darah yang sudah dipakai sejak lama oleh pasien diabetes tipe dua," kata Craig Currie, ketua peneliti.

Penelitian lain yang dilakukan di Kanada juga mengindikasikan bahwa orang yang mendapatkan insulin beresiko tiga kali lipat mengalami kematian dalam periode studi.

Meski begitu, Currie menegaskan bahwa pasien diabetes yang sekarang mendapatkan insulin tidak menghentikan pengobatan mereka. "Harus diketahui risiko komplikasi insulin ini terlihat pada pasien berusia lanjut dan kegemukan," katanya.

Keputusan mengenai terapi yang harus diambil tiap pasien bergantung pada dokter dan riwayat kesehatan yang dimiliki.

"Kebanyakan pasien tidak mengalami efek samping berbahaya. Terapi insulin juga sudah dibuktikan aman dan dipakai di seluruh dunia," katanya.


Sumber :
»»  READMORE...

Kebanyakan Kalsium Buruk untuk Jantung?

Kecukupan kalsium sangat penting bagi kesehatan tulang dan tubuh secara keseluruhan. Tetapi menurut analisis terbaru, pria yang mengonsumsi tablet kalsium setiap hari beresiko mengalami kematian akibat penyakit jantung dalam periode satu dekade.

Efek negatif dari suplementasi kalsium terhadap jantung itu memang baru penelitian awal. "Mungkin dosis yang dikonsumsi melebihi yang dibutuhkan," kata Howard Sesso dari Brigham and Women's Hospital and Harvard Medical School di Boston.

Penelitian tersebut dilakukan berdasarkan studi yang melibatkan 400.000 orang Amerika berusia pertengahan. Studi dilakukan antara tahun 1995-1996.

Para partisipan studi menjawab pertanyaan mengenai gaya hidup, kesehatan secara umum, pola makan, termasuk suplemen yang dikonsumsi. Kemudian kesehatan mereka dilacak, termasuk jumlah orang yang sudah meninggal dan penyebabnya, dalam periode 12 tahun.

Setengah dari pria dan lebih dari dua pertiga wanita mengatakan mereka mengonsumsi suplemen kalsium atau multivitamin yang mengandung kalsium.

Pada periode studi hampir 12.000 orang, atau sekitar tiga persen, meninggal karena penyakit jantung.

Peneliti dari National Cancer Institute menemukan fakta pria yang minum 1000 miligram kalsium setiap hari atau lebih, beresiko 20 persen meninggal karena penyakit jantung dibanding dengan orang yang tak minum kalsium.

Sementara kaitan antara penyakit jantung dan kalsium tidak ditemukan pada responden wanita.

Xiao mengatakan ada kemungkinan kalsium yang menumpuk di arteri dan pembuluh darah.

Namun para ahli lain menilai kaitan antara kalsium dan penyakit jantung belum jelas. Keduanya juga tidak menunjukkan hubungan sebab akibat.

Suplemen kalsium sampai saat ini masih dianggap sebagai mineral yang penting untuk mencegah keropos tulang dan risiko patah tulang. Suplemen tidak diperlukan bila kalsium bisa dicukupi dari pola makan sehari-hari.

Sumber :
»»  READMORE...

Suplemen Vitamin C Memicu Batu Ginjal


Waspadai risiko batu ginjal jika Anda termasuk orang yang rutin mengasup suplemen vitamin C. Risiko tersebut terutama pada mereka yang pernah punya riwayat batu ginjal sebelumnya.

Penelitian yang dilakukan tim dari Swedia itu memang tidak melarang orang untuk mengonsumsi vitamin C. Tetapi orang yang pernah sakit batu ginjal harus mewaspadi risiko kekambuhan penyakitnya jika mereka masih mengasup suplemen vitamin.

Penelitian berskala besar tersebut mengambil data dari wawancara para pria dewasa dan lanjut usia mengenai pola makan dan gaya hidup mereka. Mereka diikuti selama 11 tahun.

Hasil analisa menyebutkan 907 pria rutin mengonsumsi vitamin C, sementara yang tidak mengasup suplemen apa pun mencapai 22.000 orang.

Dari kelompok rutin minum vitamin C, sekitar 3,4 persen menderita batu ginjal, sedangkan dari kelompok kontrol hanya 1,8 persen.

"Sejak lama memang dicurigai kalau vitamin C dosis tinggi akan meningkatkan risiko batu ginjal karena sebagian vitamin C yang diserap tubuh akan dikeluarkan urin sebagai oksalat, salah satu komponen pembentuk batu ginjal," kata Laura Thomas, peneliti dari Karolinka Institute, Stockholm, Swedia.

Batu ginjal terbentuk dari kristal kecil yang dibentuk dari kalsium dan oksalat. Batu ginjal bisa saja keluar lewat urin tetapi seringkali menyebabkan rasa sakit. Batu ginjal berukuran besar membutuhkan operasi untuk mengeluarkannya.

Vitamin C sendiri termasuk vitamin yang penting. Namun vitamin ini sebaiknya didapatkan dari makanan yang diasup sehari-hari.

"Risiko batu ginjal dari vitamin C sepertinya tergantung pada dosis dan kombinasi nutrisi yang diasup," kata Thomas.


Sumber :
»»  READMORE...

Eureka! Bilangan Prima Terbesar Ditemukan

Alphapixel Ilustrasi bilangan prima

 
Bilangan prima terbesar berhasil ditemukan. Bilangan tersebut punya jumlah digit 17.425.170. Diketahui, bilangan prima merupakan bilangan yang hanya memiliki dua faktor, yakni satu dan bilangan itu sendiri.

Bilangan prima terbesar tersebut adalah 2 pangkat 57.885.161 minus satu. Bilangan ini mengalahkan bilangan prima terbesar sebelumnya yang ditemukan tahun 2008, yaitu 2 pangkat 43.112.609 minus 1, sepanjang 12.978.189 digit.

Bilangan prima terbesar kali ini ditemukan oleh matematikawan University of Central Missouri, Curtis Cooper. Bilangan prima ini adalah bilangan prima besar ketiga yang berhasil ditemukan oleh Cooper.

Penemuan bilangan prima terbesar dilakukan lewat upaya kolektif lewat Great Internet Mersenne Prime Search (GIMPS), misi yang dibantu 360.000 prosesor, mengoperasikan 150 triliun penghitungan per detik. Proses pengecekan lewat komputer dilakukan untuk mengonfirmasi penemuan.

Bilangan prima kali ini juga adalah angka ke-48 yang masuk kelas bilangan prima Mersenne, yaitu bilangan prima yang punya bentuk dua pangkat angka tertentu kemudian dikurangi satu. Bilangan prima kelas ini pertama kali didekripsikan oleh biarawan Perancis, Marin Mersenne, 350 tahun lalu.

George Woltman, pakar ilmu komputer yang turut memprakarsai proyek GIMPS, mengatakan, pencarian bilangan prima sangat menantang. "Ini sama halnya dengan mendaki puncak Everest," katanya seperti dikutip Livescience, Selasa (5/2/2013).

Woltman mengatakan, penemuan bilangan prima bisa dilakukan dengan cara konvensional, membagi suatu bilangan dengan bilangan yang lebih kecil. Namun, cara itu akan memakan waktu sangat lama. "Jika melakukannya dengan cara itu, butuh waktu lebih lama dari umur semesta," katanya.

Matematikawan kini punya strategi untuk menemukan bilangan prima. Mereka menggunakan rumus tertentu. Cooper yang kali ini berhasil menemukan bilangan prima berhak meraih hadiah sebesar 3.000 dollar AS.
Sumber :
»»  READMORE...

Selasa, 05 Februari 2013

Romawi Kuno Mengenal "Sex Toys" dan Obat Kuat

Corbis Relief kuno Aphrodite, dewi cinta Yunani Kuno. relief ini salah satu wujud seni Greco-Roman.

 
Seksualitas masa Romawi dan Yunani Kuno, sekitar 2000 tahun lalu, ternyata lebih liar dan mengejutkan daripada yang diduga. Hal tersebut terungkap dalam buku "The Joy of Sexus : Lust, Love and Longing in Ancient World" tulisan Vicki Leon.

Vicki mengatakan, "Di masa lalu, tak ada yang mengidentifikasi diri sebagai hetero, gay atau biseksual."

Vicki dalam tulisannya di blog The Huffington Post, Selasa (29/1/2013) lalu mengatakan, menikmati seks dengan sejenis ataupun lain jenis adalah hal biasa di masa Romawi dan Yunani Kuno. Orang menikmati seks dengan sesama jenis tanpa rasa bersalah.

Fakta lain yang diungkapkan Vicki dalam bukunya adalah soal sex toys dan obat kuat. Orang Romawi Kuno ternyata punya sex toys dan obat kuat yang aneh bin ajaib.

Salah satu sex toys adalah breadsticks, roti kering berbentuk batang. Breadsticks mulai dipakai sejak Romawi mengenal cara membuat roti. Bahan tersebut kemudian menjadi dildo biodegradable pertama Romawi dan Yunani.

"Sejak masa itu, janda kesepian di Arcadia, ibu yang tak puas dengan seksnya di Athena, serta pasangan lesbian punya sahabat tersembunyi dan bisa dibuang," ungkap Vicki dalam bukunya.

Terkait obat kuat, Vicki seperti dikutip Daily Mail, Rabu (30/1/2013), mengungkapkan bahwa orang Romawi pun mengenalnya. Kadang, orang Romawi Kuno juga membutuhkan anti Viagra berupa salep yang anehnya dibuat dari kotoran tikus dan selada.

Romawi dan Yunani Kuno juga mengenal hukuman bagi pezina. Menurut deskripsi Vicki, seorang suami dapat menyodomi orang yang berzina dengan istrinya di depan umum.

"Daripada penetrasi sebenarnya, hukuman kadang simbolik. Pihak yang dirugikan bisa memasukkan lobak ke dalam anus pezina," papar Vicki yang dikenal sebagai penulis sejarah dan arkeologi, baik untuk dewasa maupun anak-anak.

Untuk mendapatkan fakta keliaran seksualitas Romawi kuno itu, Vicki melakukan penelitian di beberapa situs arkeologi Romawi. Ia meneliti seni terkait Yunani dan Romawi atau Greco-Roman Art.

Vicki tertarik dengan sejarah sejak kecil. Ia yang kini berusia 70 tahun menghabiskan 40 hidupnya untuk meneliti sejarah. Terkait dengan apa yang ditulis dalam buku terbarunya, Vicki mengatakan bahwa manusia masa kini selayaknya merayakan seksualitasnya dengan "kegembiraan".

»»  READMORE...

Cara Berpikir Otak Ikan

Steve Baskauf Larva ikan zebra

Pengamatan mendalam pada sinyal saraf memberikan petunjuk cara otak merespons dunia luar. Pada studi terbaru, peneliti membangun mekanisme untuk mengikuti jalannya sinyal ke otak pada larva ikan zebra. Penelitian menggunakan penanda zat fluoresense (zat yang dapat berpendar di tempat gelap).
"Ini suatu terobosan," kata Florian Engert, ahli biologi cel dan molekul Harvard University, menanggapi temuan itu pada LiveScience (31 Januari 2013).
"Tidak ada orang lain yang dapat melihat aktivitas saraf dengan mikroskop fluoresens, pada larva ikan zebra yang berenang bebas dan resolusi baik," tambahnya.
Ikan zebra digunakan secara luas untuk mempelajari genetika dan perkembangan pada vertebrata. Larva ikan zebra ideal untuk dipotret sarafnya, karena kepalanya tembus cahaya. Ini membuat ilmuwan dapat secara jelas mengintip otaknya.
Dalam pengamatan ini, para peneliti membangun protein genetik (GCaMP7a) yang bersinar di bawah mikroskop fluoresens, saat melintasi saraf atau sel otak. Ikan zebra hasil transgenik ini dikembangbiakkan untuk mendapatkan ekspresi protein genetik itu pada area otak yang disebut optic tectum (bagian utama otak tengah).
Optic tectum mengontrol pergerakan dari mata saat hewan ini melihat sesuatu bergerak di lingkungan.
Pada salah satu pengamatan, ilmuwan melihat titik berkedip dan keluar-masuk. Itu menandakan sinyal menyala di otak ikan. Selanjutnya, mikroorganisme hidup paramecium (pakan ikan zebra) ditempatkan di sisi ikan yang dilumpuhkan. Lagi-lagi, sinyal kembali menyala di sekitar otak ikan, mengikuti pergerakan paramecium.
Ketika paramecium tidak bergerak, sinyal juga tak terlihat. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Current Biology. (LiveScience/ICH)
»»  READMORE...

Dunia Modern Miskin Orang Jenius

www.bhm.ch/Ferdinand Schmutzer Albert Einstein

CALIFORNIA, Dunia modern miskin orang jenius seperto Galileo yang pertama kali mempelajari langit atau Charles Darwin yang mebuahkan teori evolusi. Hal ini dikatakan Dean Keith Simonton, peneliti dari University of California, Davis.

"Kemajuan di masa depan akan dibangun pada apa yang sudah diketahui daripada berdasarkan dasar pengetahuan yang baru," demikian dinyatakan Simonton dalam tulisannya di jurnal Nature, Kamis (31/1/2013).

Simonton mengungkapkan, dalam beberapa abad lalu, disiplin ilmu baru ditegakkan, ada fisika, biologi dan kimia. Pada masa kini, disiplin ilmu hanyalah gabungan dari yang sudah ada, seperti astrofisika dan biokimia.

Menurutnya, penelitian kini juga ilakukan oleh tim dan dana yang besar, memperkecil kesempatan individu untuk menunjukkan dirinya. Tidak ada terobosan baru dalam ilmu alam. Sementara, fisika teoretik kini mengalami "krisis". Banyak akumulasi penemuan yang tidak bisa dijelaskan.

Diberitakan Physorg, Kamis lalu, Simonton mengungkapkan bahwa setelah Einstein, tidak ada lagi orang yang benar-benar bisa dikatakan jenius. Tidak ada orang yang pandangannya masih akan dianut hingga ribuan tahun mendatang. Sains masa kini b ukan menerangkan tetapi menambah cuma rumit.

Pandangan seperti yang diungkapkan Simonton bukan pertama kalinya. Profesor University of California, Berkeley, Sherrilyn Roush, mengatakan, Sebelum datangnya mekanika kuantum dari Einstein, ilmuwan juga berpandangan bahwa segala hal telah ditemukan.

"Mereka tidak melihat revolusi akan datang, bahkan tidak membutuhkannya. Di atas semuanya, revolusi dan jenius, seperti kecelakaan, tak terduga. Anda bahkan tak tahu akan membutuhkannya sebelumnya mereka muncul," kata Roush seperti dikutip Livescience, Minggu (3/2/2013).

Menanggapi pandangan Simonton, Roush mengatakan bahwa revolusi pemikiran tidak membutuhkan kecerdasan sangat tinggi. Ia juga mempertanyakan kepentingan dan kaitan disiplin baru dengan pemikiran baru.

Namun, baik Simonton maupun Roush setuju bahwa menjadi ilmuwan masa kini berbeda dengan masa lalu. Lebih banyak informasi dan pengalaman yang dibutuhkan untuk menjadi ahli di masa kini. Bagi ilmuwan saat ini, membaca semua literatur di bidang tertentu sangat tidak mungkin.

Rosuh juga menuturkan, kini ilmuwan dibantu oleh komputer untuk memroses informasi menganalisis. Karenanya, ia mengatakan, "siapa tahu kemampuan untuk melihat secara keseluruhan dan menyatakan dalam ide baru tidak meningkat?"
»»  READMORE...