Social Icons

Sabtu, 27 April 2013

Jejak Ramai di Padang Lawas

Dokumentasi Balai Arkeologi Medan

Percandian di Padang Lawas, Sumatera Utara.
Kebudayaan Hindu-Buddha tak hanya menyebar di Pulau Jawa, tetapi juga di Pulau Sumatera. Jejak dua kebudayaan itu di antaranya ada pada sebagian tradisi masyarakat ataupun tinggalan artefak. Salah satu artefak penting yang menguak teknologi kuno di Sumatera adalah benda-benda berbahan perunggu.
Artefak perunggu dari kawasan kepurbakalaan Padang Lawas di Sumatera Utara menarik perhatian Erry Soedewo (40). Peneliti bidang kepakaran Hindu-Buddha dari Balai Arkeologi Medan itu ingin mengetahui susunan material kuno penyusun benda perunggu Padang Lawas.
Sejumlah arca dan artefak perunggu koleksi Museum Provinsi Sumatera Utara yang ditemukan di Padang Lawas dan Simangambat pun dipinjam. Lalu, diteliti di Badan Tenaga Nuklir (Batam) di Yogyakarta. Temuan itu berupa pilar relung berukuran 57 sentimeter, potongan gantungan genta, serta beberapa arca Buddha kecil ”Saya ingin tahu teknologi kuno metalurgi di Sumatera,” kata Erry, Jumat (25/4).
Simangambat berada di Kabupaten Mandailing Natal, berbatasan dengan kawasan Padang Lawas. Letak kedua situs itu ”dipagari” punggung pegunungan Bukit Barisan. Butuh sehari semalam berjalan kaki dari Simangambat ke Padang Lawas.
Dua tahun (2009-2010), Erry menganalisis arca-arca itu. Lalu, menyusun tabel jenis arca berikut unsur-unsur logam pembentuknya. Kesimpulannya, artefak perunggu di Padang Lawas dan Simangambat dominan dari tembaga dan timah putih.
Sebelum menganalisis artefak Padang Lawas, ia mengantongi pengetahuan konsep tradisional pembuatan benda perunggu di India, akar Hindu-Buddha.
Kenapa metalurgi
Penelitian metalurgi unsur penyusun artefak perunggu, terutama arca, dilakukan karena selama ini arca lebih diteliti secara ikonografis, yakni hanya diteliti dari jenis, bentuk, dan ukuran arca.
”Padahal, kemajuan suatu budaya juga bisa dilihat dari teknologi metalurginya,” kata Erry. Penelitian metalurgi artefak di Sumatera itu baru pertama kalinya. Adapun artefak-artefak perunggu dari Jawa lebih dulu diteliti arkeolog Timbul Haryono.
Erry menyimpulkan, ketiadaan unsur emas, perak, dan kuningan sesuai konsep pancaloha (tradisi India selatan) pada benda perunggu Padang Lawas menunjukkan pande logam setempat punya patokan sendiri.
”Besar kemungkinan kemampuan mencampur logam-logam tertentu jadi perunggu merupakan teknik yang mentradisi, jauh sebelum masuknya pengaruh India ke Sumatera,” kata dia. Ia juga tak menemukan kesamaan teknologi pencampuran logam di Padang Lawas dengan artefak perunggu di Pulau Jawa.
Di Jawa, semua artefak perunggunya mengandung seng (Zn), di Sumatera Utara tak ada campuran seng. Sebaliknya, di Sumatera hampir semua artefak mengandung perak (Ag), sedangkan artefak dari Jawa tak satu pun menggunakan perak.
Biara kuno
Selain benda perunggu, di kawasan kepurbakalaan Padang Lawas, secara administratif di Kabupaten Padang Lawas dan Padang Lawas Utara, banyak ditemukan bangunan candi. Masyarakat lokal menyebut candi sebagai biara.
Adalah Franz Wilhelm Junghuhn, naturalis, botanikus, geolog, dan komisaris Hindia Timur yang pertama menemukan percandian di Padang Lawas (1846). Junghuhn juga banyak meneliti di daerah Batak.
Masa itu, Padang Lawas yang kini dataran luas nan kering masih hutan lebat. Bangunan candi dari batu bata itu terkurung pepohonan besar.
Menurut Bambang Budi Utomo, peneliti senior pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas), situs di Padang Lawas adalah kumpulan biara. Ia merujuk catatan Kerkhoff yang meneliti setelah Junghuhn.
Data Balai Arkeologi Medan, ada 20 situs di Padang Lawas. Lokasinya di daerah aliran sungai Barumun, Pane, dan sungai lain seluas 1.500 kilometer persegi. Bambang menduga bangunan itu sengaja dibangun di jalur perdagangan ramai.
Percandian di Padang Lawas semua dari batu bata, hanya saja langgam arsitekturnya jauh berbeda dengan percandian di Dharmasraya di Sumatera Barat ataupun Trowulan di Jawa Timur. Menurut Erry, candi-candi itu dibangun berteknik kosot, yaitu menggosokkan batu bata satu per satu setelah salah satu bagiannya dibatasi. Dengan cara itu, batu bata saling melekat.
Masyarakat pendukung Padang Lawas, menurut Bambang, merupakan penganut Buddha Tantrayana. Itu terlihat dari relief candi yang banyak melukiskan sosok yaksa, makhluk kahyangan berwujud raksasa.
Asal-usul Padang Lawas penuh perdebatan. Schnitger, peneliti kepurbakalaan di Sumatera (1950-an), menyebut Padang Lawas dibangun bersamaan stupa-stupa di Muara Takus pada abad ke-12 Masehi. Namun, tanpa bukti tertulis.
Satu-satunya sumber adalah prasasti Batu Gana di Candi/Biara Bahal I. Isinya keterangan tentang aliran sungai yang dilayari perahu hingga hilir dari abad ke-12-14 Masehi.
Tak satu penelitian pun menyebut ada jejak permukiman di sana. Temuan artefak mengarah pada tempat pemujaan. Kebisuan Padang Lawas kini bersanding dengan perkebunan kelapa sawit. Belum ada upaya menggali temuan baru.
 


Sumber :
Kompas Cetak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar